Geliat Sang Naga dari Timur, Kiblat Baru Sepakbola Dunia

Share this:

SPOTLIGHT – China bukanlah negara yang memiliki tradisi sepakbola. Selama puluhan tahun, serupa negara Asia lain, mereka sempat “dijajah” industri sepak bola Eropa. Namun, melalui “tangan-tangan” korporasi yang didukung kuat oleh pemerintah, China berkembang menuju negara adidaya sepak bola dunia. Itu semua digerakkan satu visi, yaitu juara Piala Dunia 2050.

Raksasa-raksasa korporasi asal China kini seolah tengah “berlomba” investasi dengan membeli klub-klub Eropa, benua yang selama ini menjadi “kiblat” sepak bola sejagat.

Berdasarkan riset di China baru-baru ini, 14 klub sepak bola dunia, mayoritas di Eropa, telah diakuisisi korporasi China sejak 2015. Klub-klub yang diambil alih China itu pun tidak sembarangan. Mereka punya reputasi besar di dunia.

Klub itu salah satunya AC Milan, tim Italia tersukses di benua biru, yaitu dengan koleksi tujuh gelar Liga Champions Eropa. Lalu, ada Inter Milan yang 70 persen sahamnya kini dikuasai ritel raksasa China, Suning.

 

zanetti-zhang-thohir-inter-suning-2016

 

Masih banyak lagi klub Eropa yang kini dijerat yuan, mata uang China. Seperlima saham Atletico Madrid, finalis Liga Champions musim lalu, kini juga dikuasai China lewat korporasi Wanda Group.

China bahkan mulai menggerus kekuatan “uang minyak” para taipan Timur Tengah dengan membeli 13 persen saham milik Manchester City.

“Agar mampu bersaing dengan skenario Eropa, Anda harus punya kantong tebal,” ujar Direktur AC Milan Umberto Gandini saat pengumuman pembelian Milan oleh konsorsium China, beberapa waktu lalu.

China memanfaatkan situasi pelambatan ekonomi di Eropa untuk ganti “menjajah” benua biru. Klub ternama seperti Milan terpaksa dijual pemiliknya, Silvio Berlusconi, akibat terjerat utang 220 juta euro atau Rp 3,1 triliun. Mereka butuh investor.

Di lain pihak, ekonomi China tengah menggeliat. China adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia saat ini, yaitu rata-rata 10 persen per tahun. Tidak heran, seperti disebutkan CGKSB, lembaga riset yang rutin menganalisis “kekuatan bisnis” China, hanya dalam setahun, korporasi negeri itu mampu mengeluarkan total 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 26 triliun untuk 14 klub sepak bola dunia.

Kucuran uang dari China itu diperkirakan bakal lebih besar dalam tahun-tahun mendatang. Dalam rencana pembangunan lima tahunnya, Pemerintah China menargetkan kenaikan skala industri olahraga nasional menjadi 3 triliun yuan atau Rp 5.800 triliun pada 2020. Industri olahraga di China ditargetkan naik dua kali lipat dari persentase saat ini, yaitu 0,6 persen dari produk domestik bruto.

Selain menguasai aset sejumlah klub di Eropa, China juga berinvestasi besar di perusahaan pemasaran dan hak siar olahraga dunia demi mengepung industri sepak bola dunia mulai dari hulu hingga ke hilir. Jadi, ada skenario besar yang mendorong para pemilik modal China untuk ramai-ramai berinvestasi di industri sepak bola dunia.

 

Visi ‘Gila’ Sang Presiden

Lantas, apakah sebetulnya skenario itu? Selain untuk memajukan ekonomi China, itu tak terlepas dari kecintaan Presiden China Xi Jinping akan sepak bola. Ya, seperti kerap ditunjukkan Presiden RI Joko Widodo, Xi Jinping kecewa dengan prestasi tim nasional sepak bola mereka.

Kontras dengan cabang olahraga lain, timnas China termasuk “melempem” di kancah sepak bola internasional. Tim yang berjuluk Lóngzhī Duì  (Team Dragon –Naga) ini belum sekali pun menjuarai Piala Asia. China juga hanya sekali pernah ikut serta di Piala Dunia, itu pun hasilnya mengecewakan.

Dari tiga laga penyisihan grup pada Piala Dunia Korea Selatan dan Jepang 2002, Tim Naga kalah tiga kali. Mereka bahkan tidak mampu mencetak gol dan kebobolan sembilan kali.

Xi Jinping, yang konon mengoleksi ratusan kostum tim sepak bola, punya visi “gila”, menjadikan China tuan rumah sekaligus juara Piala Dunia 2050.

Padahal, sejarah mencatat, tak pernah ada tim selain dari Eropa dan Amerika Latin yang mampu mengangkat trofi turnamen prestisius itu sejak pertama kali digelar, 1930.

 

sven-goran-eriksson-shanghai-sipg-2016

 

Sven-Goran Eriksson, mantan pelatih timnas Inggris yang kini berkarier di China Super League (CSL), bahkan meyakini, mimpi Xi Jinping dan rakyat China itu bisa lebih cepat terwujud. “Dalam 10 atau 15 tahun ke depan, saya yakin timnas China bakal jadi kampiun Piala Dunia. Tiga tahun lalu, sepak bola di China belum seperti sekarang. Namun, akhir-akhir ini mereka menggila. Pada 2016 ini setiap pemain tampaknya ingin pindah ke China,” ujar Eriksson yang kini melatih Shanghai SIPG kepada The Guardian.

Berkat langgam “ekonomi terpimpin”, Xi Jinping mendorong para taipan China untuk berinvestasi besar-besaran di sepak bola, baik di dalam maupun luar negeri. CSL kini mulai menjelma sebagai salah satu liga sepak bola paling bergengsi di luar Eropa.

 

Ladang Emas Baru

Pemain-pemain top yang masih produktif, bukan “bintang senja”, berduyun-duyun merantau ke CSL, seperti Jackson Martinez (mantan striker Atletico Madrid), Gervinho (eks penyerang AS Roma), dan Graziano Pelle (striker timnas Italia).

Demi meminang Pelle, Shandong Luneng rela membayar gaji “gila”, Rp 228 miliar per musim, setara gaji pemain termahal dunia saat ini, Paul Pogba.

 

graziano-pelle-shandong-luneng-2016

 

Tak ayal, Carlos Dunga, mantan pelatih timnas Brasil, menyebut China sebagai El Dorado alias “ladang emas” baru bagi pemain asal Amerika Selatan. Para bintang Brasil seperti Hulk, Ramires, dan Alex Teixeira kini berkarier di negeri itu. Pelatih Brasil saat Piala Dunia 2014 dan juara Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari, tak ketinggalan berkarier di sana.

Para individu berbakat itu diharapkan bisa mentransfer ilmu dan kemampuannya kepada para talenta asli China. Xi Jinping bahkan memaksa pendirian 70.000 lapangan sepak bola baru.

Mereka yang bertalenta akan disekolahkan ke Eropa lewat “koneksi” korporasi. Seperti diungkapkan Presiden Suning Zhang Jindong, ke depan diharapkan lebih banyak pemain muda China bisa berkarier di Italia dan menimba ilmu di Akademi Inter Milan. Begitu pula di Atletico Madrid dan AC Milan. Inilah “titipan” Xi Jinping demi membentuk “pasukan” pesepak bola China yang menakutkan di kemudian hari.

Satu langkah nyata telah dilakukan Pemerintah China dengan mengangkat Marcello Lippi, yang membawa Italia juara Piala Dunia 2006, sebagai pelatih baru timnas Tiongkok. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

 

Share this:

Leave a Reply

83 More posts in SPOTLIGHT category
Recommended for you
Zinedine Zidane, Legenda Saat Main, Kini Juga Saat Melatih

CARDIFF - Keberhasilannya membawa Real Madrid menjadi juara Liga Champions Eropa dua kali beruntun membuat...